Pagi itu setelah shalat subuh berjamaah,
seperti biasanya kami melakukan rutinitas kami yakni mengaji kitab Nashaih
al-Ibad karya Imam Nawawi bin ‘Umar al-Jawi yang dipimpin oleh beliau K.H Abdul
Mustaqim. Disela pengajian ketika membicarakan masalah rezeki, ada sebuah
pelajaran yang sangat berharga dan bisa menjadi sebuah instropeksi diri tentang
betapa besar nikmat yang telah Allah berikan namun begitu banyak yang kita
lalaikan.
Beliau menyampaikan sebuah pemahamannya dalam surat Al-Thalaq
ayat 2-3 “ waman yattqillaha yaj’al
lahu makhroja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib” yang berarti “ barangsiapa bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki
dari arah yang tiada disangka-sangka” . Kebanyakan orang memahami
kata-kata min haytsu la yahtasib dengan pemahaman bahwa Allah
benar-benar memberikan sebuah rezeki kepada mereka dari jalan yang benar-benar
tidak mereka duga sama sekali sebelumnya. Namun beliau- K.H.Abdul Mustaqim-
menafsirkaan ayat tersebut lebih luas daripada apa yang telah kita fahami
sebelumnya. Baginya “bahwa lafadz min haytsu la yahtasib itu tidak hanya
diartikan dengan rezeki yang tidak pernah kita sangka saja namun lebih dari itu
bahwa Allah memberikan rezeki kepada kita melebihi apa yang kita sangkakan atau
kita ukur, itu juga termasuk min haytsu la yahtasib”.
Lebih lanjut beliau memberikan
sebuah refleksi tentang perjalanan hidupnya yang hanya berasal dari sebuah
kampung yang agak terpencil/ pelosok serta cukup jauh dari keramaian.
Menurutnya bahwa dengan belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh akan
mengantarkan kepada cita-citanya yakni menjalani hidup lebih baik –mungkin
menjadi seorang dosen- . Hal ini sudah beliau duga dan beliau sangka, namun
yang tidak pernah beliau sangka adalah bahwa Allah memberikannya saat ini
rezeki melebihi apa yang telah beliau sangkakan tadi – menjadi seorang dosen
yang cukup di pandang di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di
kota Yogyakarta, memiliki sebuah mobil, memiliki rumah yang cukup baik,
memiliki sebuah pesantren meski belum besar serta masih banyak yang lain-.
Beliau menambahkan bahwa tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia yang
hanya seorang anak yang dibesarkan disebuah kampun cukup pelosok namun bisa
menjalani hidup seperti saat ini, di sebuah kota besar yang sangat ramai yakni
Yogyakarta.
Mereflesikan hal tersebut, saya teringat
akan kisah teman saya yakni Wildan dan Afif. Kurang lebih sekitar empat bulan
yang lalu pak kiai memberikan sebuah informasi tentang LKTI – Lomba Karya Tulis
Ilmiah- yang diadakan oleh Puslitbang Kementrian Agama RI dengan berhadiahkan
10 juta rupiah bagi 10 proposal terbaik. Singkat cerita akhirnya proposal
mereka diterima sebagai bagian dari 10 proposal terbaik setelah bersaing dengan begitu banyak
proposal-proposal dari seluruh penjuru Indonesia, kemudian akan diberikan dana
penelitian sebesar Rp.10.000.000. untuk menyelesaikan penelitiannya. Hal ini
sesuai dengan apa yang mereka sangkakan dan hasil kerja keras mereka yang rela
menunda kepulangannya ke kampung masing-masing – di saat pesantren sudah sangat sepi
karena para santri sudah pulang ke kampung mereka untuk menyambut datangnya
bulan Ramadhan - .
Namun ternyata Allah
memberikan rizki melebihi apa yang mereka sangkakan. Dalam mempertanggung
jawabkan proposalnya, mereka ternyata harus pergi ke Jakarta untuk
mempresentasikan proposalnya. Mereka harus menginap di sebuah hotel yang cukup
megah dengan kelas bintang tiga selama tiga hari. Mulai dari keberangkatan
sampai kepulangan termasuk menginap di hotel, makan selama tiga hari semuanya
ditanggung oleh Kemenag. Bahkan keberadaan mereka di Jakarta selama tiga hari
dihargai sebesar 150.000/ perhari sebagai uang saku. “Hadza min Fadhli
Rabbi” demikian ujar Wildan di sela makan malam dengan menu makanan yang
begitu nikmat dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah sebuah
kenikmatan pertama yang telah diberikan oleh Allah melebihi apa yang mereka
sangkakan.
Tiga bulan kemudian,
mereka mendapatkan undangan yang kedua kalinya untuk mempresentasikan hasil
penelitannya di Bogor. Tak jauh berbeda dengan yang pertama segala keperluan
dari mulai keberangkatan hingga kepulangan akan ditanggung oleh Kemenag. Siang
itu mereka sampai di Kantor Kementrian Agama Pusat lantai 18 untuk beristirahat
sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Bogor bersama-sama para
pejabat Kemenag. Setelah menunggu beberapa jam, mereka berangkat menuju Bogor
dengan berkendaraan mobil dinas. Sesampainya di Bogor mereka tersenyum bahagia,
ketika melihat hotel yang begitu besar tak kalah kelas dengan hotel yang mereka
tempati tiga bulan yang lalu di Jakarta. Mereka harus menginap di sana selama
tiga hari untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, didukung dengan fasilitas
hotel yang terbilang megah bagi mereka. “Hadza min Fadhli Rabbi”
demikian ujar afif disela sarapan paginya yang ditemani dengan segelas jus
melon, nasi putih dan steak. Setelah
tiga hari, tiba saatnya mereka pulang ke Pon-Pes LSQ Ar-Rahmah disertai uang
transport dan saku yang nominalnya lebih besar daripada saat pertama presentasi
proposal. Sebelum pulang Afif menyempatkan diri untuk menyempatkan diri untuk
mengunjungi Kebun Raya Bogor bersama teman-temannya dan seorang reporter PBNU
Online. Sementara Wildan memilih untuk bersinggah di Pon-Pes Darun Najah
Jakarta sembari menunggu keretanya.
Demikianlah betapa
Allah memberikan sebuah nikmat melebihi apa yang mereka sangka sebelumnya. Jika
tak Allah tak melebihkan nikmatnya mungkin kami belum tentu merasakan betapa
nikmatnya tidur di hotel berbintang, dengan makanan berbintang serta dapat
berkunjung di berbagai tempat di Jakarta dan di Bogor yang jika di total tentu
melebihi Rp 10.000.000 ; ujar Afif dan Wildan saat dalam perjalanan pulang.
Saya yang pada saat itu sebagai saksi perjalanan mereka dari awal hingga akhir
juga dapat merasakan betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka
dan juga saya.
Para pembaca yang
budiman, terkadang kita tidak pernah sadar betapa besar nikmat yang telah Allah
berikan kepada kita. Karena keinginan duniawi yang begitu tinggi, kita lupa
akan nikmat-nikmat yang dianggap kecil
yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari. Mari kita renungkan
nasihat Rasul ketika membicarakan
tentang urusan duniawi “ undzuru ila man huwa asfala minkum, wa la tandzuru
ila man huwa fawqokum” ( lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu,
jangan melihat orang yang ada di atasmu ) hadis ini bukan berarti
mengisyaratkan kita tidak boleh meraih kehidupan duniawi sebanyak-banyaknya,
namun dalam hadis ini sesungguhnya Rasulullah ingin berpesan kepada kita untuk
dapat selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita sekecil
apapun nikmat itu.
Sebagai ucapan
terakhir, mari kita bersama-sama terus berinstropeksi diri akan betapa besar
nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari, sebab semakin jauh
kita bisa mengukur dan bersyukur terhadap nikmat Allah, yakinlah bahwa Allah
akan memberikan lebih jauh dari apa yang telah kita ukur atau sebagaimana yang
telah dijelaskan di awal yakni “ min haytsu la yahtasib” demikian pula
yang telah Allah jelaskan dalam firmannya ( La in syakartum la azidannakum).


