Social Icons

Pages

Selasa, 09 Desember 2014

MIN HAYTSU LA YAHTASIB

MIN HAYTSU LA YAHTASIB



Pagi itu setelah shalat subuh berjamaah, seperti biasanya kami melakukan rutinitas kami yakni mengaji kitab Nashaih al-Ibad karya Imam Nawawi bin ‘Umar al-Jawi yang dipimpin oleh beliau K.H Abdul Mustaqim. Disela pengajian ketika membicarakan masalah rezeki, ada sebuah pelajaran yang sangat berharga dan bisa menjadi sebuah instropeksi diri tentang betapa besar nikmat yang telah Allah berikan namun begitu banyak yang kita lalaikan.
Beliau menyampaikan sebuah pemahamannya dalam surat Al-Thalaq ayat  2-3 “ waman yattqillaha yaj’al lahu makhroja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib” yang berarti “ barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka” . Kebanyakan orang memahami kata-kata min haytsu la yahtasib dengan pemahaman bahwa Allah benar-benar memberikan sebuah rezeki kepada mereka dari jalan yang benar-benar tidak mereka duga sama sekali sebelumnya. Namun beliau- K.H.Abdul Mustaqim- menafsirkaan ayat tersebut lebih luas daripada apa yang telah kita fahami sebelumnya. Baginya “bahwa lafadz min haytsu la yahtasib itu tidak hanya diartikan dengan rezeki yang tidak pernah kita sangka saja namun lebih dari itu bahwa Allah memberikan rezeki kepada kita melebihi apa yang kita sangkakan atau kita ukur, itu juga termasuk min haytsu la yahtasib”.
Lebih lanjut beliau memberikan sebuah refleksi tentang perjalanan hidupnya yang hanya berasal dari sebuah kampung yang agak terpencil/ pelosok serta cukup jauh dari keramaian. Menurutnya bahwa dengan belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh akan mengantarkan kepada cita-citanya yakni menjalani hidup lebih baik –mungkin menjadi seorang dosen- . Hal ini sudah beliau duga dan beliau sangka, namun yang tidak pernah beliau sangka adalah bahwa Allah memberikannya saat ini rezeki melebihi apa yang telah beliau sangkakan tadi – menjadi seorang dosen yang cukup di pandang di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di kota Yogyakarta, memiliki sebuah mobil, memiliki rumah yang cukup baik, memiliki sebuah pesantren meski belum besar serta masih banyak yang lain-. Beliau menambahkan bahwa tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia yang hanya seorang anak yang dibesarkan disebuah kampun cukup pelosok namun bisa menjalani hidup seperti saat ini, di sebuah kota besar yang sangat ramai yakni Yogyakarta.
Mereflesikan hal tersebut, saya teringat akan kisah teman saya yakni Wildan dan Afif. Kurang lebih sekitar empat bulan yang lalu pak kiai memberikan sebuah informasi tentang LKTI – Lomba Karya Tulis Ilmiah- yang diadakan oleh Puslitbang Kementrian Agama RI dengan berhadiahkan 10 juta rupiah bagi 10 proposal terbaik. Singkat cerita akhirnya proposal mereka diterima sebagai bagian dari 10 proposal terbaik  setelah bersaing dengan begitu banyak proposal-proposal dari seluruh penjuru Indonesia, kemudian akan diberikan dana penelitian sebesar Rp.10.000.000. untuk menyelesaikan penelitiannya. Hal ini sesuai dengan apa yang mereka sangkakan dan hasil kerja keras mereka yang rela menunda kepulangannya ke kampung masing-masing – di saat pesantren sudah sangat sepi karena para santri sudah pulang ke kampung mereka untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan - .
Namun ternyata Allah memberikan rizki melebihi apa yang mereka sangkakan. Dalam mempertanggung jawabkan proposalnya, mereka ternyata harus pergi ke Jakarta untuk mempresentasikan proposalnya. Mereka harus menginap di sebuah hotel yang cukup megah dengan kelas bintang tiga selama tiga hari. Mulai dari keberangkatan sampai kepulangan termasuk menginap di hotel, makan selama tiga hari semuanya ditanggung oleh Kemenag. Bahkan keberadaan mereka di Jakarta selama tiga hari dihargai sebesar 150.000/ perhari sebagai uang saku. “Hadza min Fadhli Rabbi” demikian ujar Wildan di sela makan malam dengan menu makanan yang begitu nikmat dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah sebuah kenikmatan pertama yang telah diberikan oleh Allah melebihi apa yang mereka sangkakan.
Tiga bulan kemudian, mereka mendapatkan undangan yang kedua kalinya untuk mempresentasikan hasil penelitannya di Bogor. Tak jauh berbeda dengan yang pertama segala keperluan dari mulai keberangkatan hingga kepulangan akan ditanggung oleh Kemenag. Siang itu mereka sampai di Kantor Kementrian Agama Pusat lantai 18 untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Bogor bersama-sama para pejabat Kemenag. Setelah menunggu beberapa jam, mereka berangkat menuju Bogor dengan berkendaraan mobil dinas. Sesampainya di Bogor mereka tersenyum bahagia, ketika melihat hotel yang begitu besar tak kalah kelas dengan hotel yang mereka tempati tiga bulan yang lalu di Jakarta. Mereka harus menginap di sana selama tiga hari untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, didukung dengan fasilitas hotel yang terbilang megah bagi mereka. “Hadza min Fadhli Rabbi” demikian ujar afif disela sarapan paginya yang ditemani dengan segelas jus melon, nasi putih dan steak.  Setelah tiga hari, tiba saatnya mereka pulang ke Pon-Pes LSQ Ar-Rahmah disertai uang transport dan saku yang nominalnya lebih besar daripada saat pertama presentasi proposal. Sebelum pulang Afif menyempatkan diri untuk menyempatkan diri untuk mengunjungi Kebun Raya Bogor bersama teman-temannya dan seorang reporter PBNU Online. Sementara Wildan memilih untuk bersinggah di Pon-Pes Darun Najah Jakarta sembari menunggu keretanya.
Demikianlah betapa Allah memberikan sebuah nikmat melebihi apa yang mereka sangka sebelumnya. Jika tak Allah tak melebihkan nikmatnya mungkin kami belum tentu merasakan betapa nikmatnya tidur di hotel berbintang, dengan makanan berbintang serta dapat berkunjung di berbagai tempat di Jakarta dan di Bogor yang jika di total tentu melebihi Rp 10.000.000 ; ujar Afif dan Wildan saat dalam perjalanan pulang. Saya yang pada saat itu sebagai saksi perjalanan mereka dari awal hingga akhir juga dapat merasakan betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka dan juga saya.
Para pembaca yang budiman, terkadang kita tidak pernah sadar betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Karena keinginan duniawi yang begitu tinggi, kita lupa akan nikmat-nikmat  yang dianggap kecil yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari. Mari kita renungkan nasihat  Rasul ketika membicarakan tentang urusan duniawi “ undzuru ila man huwa asfala minkum, wa la tandzuru ila man huwa fawqokum” ( lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, jangan melihat orang yang ada di atasmu ) hadis ini bukan berarti mengisyaratkan kita tidak boleh meraih kehidupan duniawi sebanyak-banyaknya, namun dalam hadis ini sesungguhnya Rasulullah ingin berpesan kepada kita untuk dapat selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita sekecil apapun nikmat itu.
Sebagai ucapan terakhir, mari kita bersama-sama terus berinstropeksi diri akan betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari, sebab semakin jauh kita bisa mengukur dan bersyukur terhadap nikmat Allah, yakinlah bahwa Allah akan memberikan lebih jauh dari apa yang telah kita ukur atau sebagaimana yang telah dijelaskan di awal yakni “ min haytsu la yahtasib” demikian pula yang telah Allah jelaskan dalam firmannya ( La in syakartum la azidannakum).  


Jumat, 06 Juni 2014

Pesta Rakyat atau Ajang Saling Menghujat ?


Pesta Rakyat atau Ajang Saling Menghujat ??
Mari kita ciptakan Pemilu yang bersih, pemilu yang bebas dari kecurangan, pemilu yang adil, pemilu tanpa kekerasan, begitulah inti dari pidato kedua pasang Capres-Cawapres ; Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Jokowi Dodo- Jusuf Kalla , dalam acara Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai tanggal 3 Juni yang lalu. Bahkan statement tersebut dipertegas dengan ucapan dari salah satu calon “ diharap kepada para pendukung saya benar-benar mengikuti instruksi ini”.
            Namun jika dilihat dalam faktanya beberapa hari terakhir ini berbagai media sosial sedang heboh membahas politisi partai PDIP yang sekaligus menjadi tim sukses dari pasangan Jokowi-JK- Adian Napitupulu- ia menjadi buah bibir awak media sejak diundangnya dalam program Mata Najwa beberapa hari yang lalu pula. Saat dilontarkan pertanyaan terakhir oleh Najwa Shihab apakah kelebihan dari masing-masing calon namun yang menjawab adalah tim sukses lawan. Ia justru menjawab Prabowo hebat dalam dua hal yakni dalam mengurus kuda dan memberi harapan kepada wanita-wanita. Begitupun tim sukses dari Prabowo mengatakan : Jokowi hebat dalam blusukan, namun saya tidak membayangkan jika ia harus menghabiskan berapa tahun untuk membagikan sembako kepada rakyat yang jumlahnya jutaan. Berbagai isu-isu lain yang sedang berkembang di media saat ini tentang Prabowo , bahwa ia merupakan seorang psikopat, hanya seorang antek Soeharto yang akan bertindak tidak berbeda layaknya Soeharto, orang kaya yang tidak akan bisa mengerti penderitaan orang-orang miskin. Sedangkan isu yang berkembang tentang Jokowi, bahwa ia adalah antek Yahudi, yang nama aslinya adalah Herbertus Handoko Jokowidodo, ada pula yang mengatakan bahwa ia hanyalah sebagai bonekanya Megawati, yang dapat diperintah sesuai keinginan Megawati. Begitulah kira-kira berita-berita yang beredar di media, dan masih banyak yang lainnya.
Terlepas dari benar atau tidak kabar-kabar itu, namun fakta ini sesungguhnya membuktikan bahwa apa yang dikatakan dan di instruksikan  para calon saat berpidato di depan publik bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan. Ini hanyalah salah satu dari beberapa bukti-bukti yang terjadi dilapangan tentang ketidak selarasan antara ucapan dan perbuatan. Entah apakah mereka para calon benar-benar tidak tahu , pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu ? Lalu sebenarnya Pemilu lima tahunan ini benar Pesta Rakyat , atau ajang saling menghujat yang akhirnya menyengsarakan rakyat ? Kampanye pemilu yang hanya berlangsung beberapa bulan ini namun bisa menyulut permusuhan yang berkepanjangan di masyarakat akibat aksi provokator dari para tim sukses. Tidak sedikit kita temui di media pertikaian antar anggota partai dan antar calon tim sukses baik dalam pemilu calon legislatif maupun calon presiden dan wakilnya. Semisal kasus yang tidak luput dari ingatan kita ialah bentrokan yang terjadi antar dua kubu simptisan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar di Mamuju Sulawesi Barat pada bulan Maret yang lalu, yang mengakibatkan  aksi saling bacok sampai ada korban yang kehabisan darah karena luka bacok diwajah. Diduga penyebabnya adalah karena salah seorang simpatisan partai Demokrat menurunkan atribut dan bendera Partai Golkar. Hal-hal seperti inilah yang benar-benar tidak kita harapkan, dengan masalah yang sebenarnya sangat sepele namun berdampak sangat besar. Lagi-lagi pertanyaan yang muncul adalah pesta rakyat atau menyengsarakan rakyat ?
Menuju Pemilu yang benar-benar bersih….
Sudah saatnya pemilu atau yang sering disebut dengan pesta rakyat lima tahunan, harus berbenah diri. Menuju pemilu yang benar-benar berlandaskan asas Langsung, Umum, Bersih Jujur dan Adil. Tidak sebatas dalam ranah pidato saja, namun juga harus selaras dengan fakta yang ada. Disinilah ketegasan pemimpin sangat dibutuhkan bagi para pelanggar asas-asas yang telah ditetapkan tersebut. Bawaslu harusnya tidak hanya sekedar menunggu laporan, untuk benar-benar  memberi sanksi kepada orang-orang yang berkampanye dengan tidak menggunakan etika, menyebar isu-isu yang tidak benar, mencari-cari kesalahan satu sama lain, saling mencaci, saling menghujat dsb. Sebagaimana yang diucapkan oleh Ketua Bawaslu-Muhammad- saat memberikan pidatonya beberapa hari yang lalu dalam acara Deklarasi Pemilu pula, namun Bawaslu juga harus menjemput bola, dalam arti turun kelapangan untuk mencari dan menindak orang-orang yang melakukan hal-hal  tersebut baik di media maupun non-media. Muhammad juga mengatakan bahwa “letak indikator keberhasilan Bawaslu pada pemilu kali ini bukanlah karena seberapa  banyak rekomendasi atau laporan pelanggaran pidana dan administrasi tapi seberapa serius Bawaslu mencegah pelanggaran itu agar tidak terjadi”.  Karena jika hal ini terus berlarut bukanlah kebahagiaan, namun kesengsaraan yang diterima rakyat dalam pemilu satu bulan kedepan. Jangan paksa rakyat untuk menerima segala bentuk provokasi dari para timses calon, biarkanlah rakyat memilih dengan hati nurani mereka masing-masing.
 Pada akhirnya kita sama-sama menunggu bentuk tindakan konkrit atau tindakan preventif yang akan dilakukan Bawaslu  selanjutnya, dalam mencegah agar pelanggaran-pelanggaran tidak lagi terjadi… Sebagimana moto diakhir penghujung pidatonya –Muhammad-   yakni  : jujur, tegas kepada setiap pelanggaran tetapi tetap santun dalam menegakkan aturan.. Agar tercipta pemilu yang damai tanpa ada rakyat yang bertikai dan tercerai berai. 

Oleh : Idris Ahmad Rifai, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selasa, 25 Februari 2014

Renungan ketika Sakit

 Renungan Ketika Sakit
Tafakkaru fi Kholqillah, wa La Tafakkaru fi Dzatillah...
Disaat diri ini sedang sakit, sudah selayaknya kita berpikir kembali seberapa validkah teori aliran Qadariyah yang mengatkan bahwa : manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain, manusia mempunyai qudrah (kekuatan atas perbuatannya ).
Karena didalam akal yang sehat ini mengatakan, aku harus bangkit, ingin melakukan aktivitas seperti biasanya, ingin sekolah, ingin kuliah, ingin bermain bola, dan apapun itu. Namun mengapa badan dan anggota tubuh yang lain tak mampu untuk melaksankannya ? Mengapa tubuh ini tak sejalan dengan keinginan, mengapa tubuh ini menolak perintah akal ? Lalu dimanakah letak qudrah, dimanakah letak teori yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatannya tanpa campur tangan Tuhan. Mari kita renungkan...
Sakit merupakan sebuah contoh kecil akan turut berperan sertanya Allah terhadap apa yang kita inginkan. Diri ini menginginkan,diri ini berusaha, namun sebagai endingya Allahlah yang menetukan segalanya, apakah hal itu sesuai dengan kehendaknya,sesuai dengan qodo’ nya yang telah tertulis di Lauh al-Mahfudz beribu tahun yang lalu ataukah tidak. Karena Ia-lah yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Yang mengatur segala kehidupan,di seluruh jagad alam semesta....
 Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 216 :
 Wa ‘asa an takrahu syaian wahuwa khairun lakum, Wa ‘asa an tuhibbu syaian wahuwa syarrun lakum,wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun. ( Mungkin saja ketika engkau membenci terhadap sesuatu, ternyata hal itu amat baik bagimu. Dan mungkin pula ketika engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui, sedang kamu tak mengetahui ).
Maka marilah kita berdoa, mudah-mudahan apa yang kita cintai, apa yang kita inginkan serta segala apa yang kita cita-citakan, semuanya sesuai akan Qodo’ nya Allah yang telah dicatat di Lauh al-Mahfudz dan Dikehendaki pula oleh-Nya...
Amin Allahumma Amin..

Jumat, 21 Februari 2014

Nasihat Sang Ustadz



Nasihat Sang Ustadz
Jumat, 21 februari 2014

Disaat angin berdesir begitu kencang, disertai gemuruh suara langit yang sedikit demi sedikit merubah warna dirinya yang semula biru, menjadi gelap dan hitam. Disaat itu pulalah aku berpikir bahwa tidak lama lagi hujan akan turun, akan menyapu debu-debu yang beterbangan dan menempel baik diranting-ranting, di pohon-pohon, di genting, dijalan dan disetiap sudut kota Jogja Istimewa ini. Akan menyapu rasa panas yang telah berkumpul selama beberapa minggu belakangan ini.
Tiba tiba terbersit dipikranku akan nasihat dari salah seorang ustadz yang sangat ku ta’adzimi di Pon-pes dahulu yakni “ PANAS BERTAHUN-TAHUN AKAN HILANG DENGAN HUJAN SATU HARI”. Sebuah kata bijak yang penuh makna, sering terjadi dan akan dihadapi oleh para santri suatu saat nanti.
Hujan dimaknai dengan kebohongan,penghianatan dan perilaku apapun yang membuat rasa ketidak percayaan dari seseorang terhadap diri kita. Serta panas bertahun-tahun adalah sebuah kepercayaan ,amanah serta segala prasangka baik yang telah diberikan. Jadi pada dasarnya kita pastilah hidup bermasyarakat,saling berinteraksi,saling berbagi,saling menolong dan sebagainya. Didalam segala kegiatan yang kita lakukan pasti ada sebuah rasa kepercayaan satu dengan yang lainnya. Rasa kepercayaan inilah yang akan membentuk relasi sosial yang semakin solid,semakin dekat dan semakin harmonis. Baik relasi antar tetangga, guru-murid, ustadz-masyarakat,dosen-mahasiswa dsb. Maka jika sekian lama kita telah dipercaya, diberi amanah, dari siapapun itu, hendaklah kita menjaganya dengan sebaik-baiknya. Jangalah sekali kali mengecewakan ataupun menghianati sebuah amanah dan kepercayaan tersebut. Karena sekali saja kita mengecewakan dan menghianatinya, maka akan sangat sulit,sangat lama, untuk membangun kembali rasa  kepercayaan itu, bahkan mungkin untuk selamanya rasa kepercayaan yang diberikan akan hilang.
Jika dalam konteks kesantrian maka jagalah baik-baik prasangka yang baik dari gurumu untuk dirimu, serta dari teman-temanmu….
Jika dalam konteks masyrakat maka jagalah baik-baik kepercayaan masyrakat sekitarmu kepadamu,…
Janganlah melakukan hal-hal yang dapat membuat sebuah prasangka baik serta kepercayaan yang diberikan menjadi sebuah prasangka yang buruk  serta rasa ketidak percayaan. Hal inilah yang semakna dengan kata “Hujan Satu Hari “
Sebagaimana Rasulullah bersabda : Ayatul Munafiq tsalatsun, idza hadatsa kadzaba, wa idza wa’ada akhlafa, wa idza’ tumina khona . “Tanda-tanda orang munafik ada tiga : Apabila berbicara,berdusta. Apabila berjanji,tidak ditepati dan apabila diberi amanah,maka dikhianati.
Sebagai kesimpulan, marilah kita bersama menjadi seseorang yang selalu amanah, serta menjaga diri dari segala perbuatan yang akan merusak citra kita ,dimata semua orang. Dan semoga kita tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang munafik. Amin Allahumma Amin……

Rabu, 12 Februari 2014

Adab Puncak Segala Ilmu

Adab Puncak  Segala Ilmu

 

Inspirasi pagi setelah mengkaji kitab Nasoihul ‘Ibad oleh Dr.KH.Abdul Mustaqim :
Syekh Hasan al-Basri salah seorang tokoh sufi yang sangat masyhur dan masih termasuk golongan Tabi’in berkata :
“ Man la adaba lahu la ‘ilma lahu, Wa man la Sobaro lahu la dina lahu, Waman la Wara’a lahu la zulfa lahu” Barang siapa yang tak ber adab maka tidak ada ilmu baginya, barang siapa yang tidak ber sabar maka tidak ada agama baginya, dan barang siapa tak menjaga wira’i maka tidak ada martabat baginya.

Selanjutnya Imam Nawawi memberikan penjelasan tentang yang dimaksud ber adab atau ber etika ialah baik dihadapan Allah maupun dihadapan makhluk yakni manusia. Yang dimaksud dengan tidak sabar ialah pada saat menanggung segala bentuk ujian, cacian dari manusia, beratnya menjauhi berbagai macam maksiat dan menunaikan segala hal yang difardukan. Yang terakhir yang dimaksud dengan tidak wira’i ialah tidak dapat menjauhi perkara yang haram dan syubhat,maka ia tidak bermartabat di sisi Allah serta tidak ada kedekatan pada Allah pula.

Teringat saat di pesantren dahulu, banyak Kyai dan Ustadz yang dawuh, Beliau lebih suka kepada santri yang biasa-biasa saja tapi nurut,istiqomah dan ber adab , daripada santri yang cerdas tapi tidak nurut ,tidak punya etika dan tidak istiqomah. Mungkin para kyai dan ustadz-ustadz di pesantren mengikuti perkataan syaikh Hasan al-Basri diatas Man la adaba lahu la ‘ilma lahu,barang siapa tak beradab maka tak berilmu. Sebagaimana dijelaskan oleh KH Abdul Mustaqim, bahwa Adab atau etika adalah puncak dari segala macam bentuk keilmuan. Karena dipesantren tidak hanya menuntut cerdas secara intelektual, namun di pesantren menuntut kecerdasan baik secara intelektual maupun spiritual, dan kecerdasan spiritual yang lebih diutamakan.
 Hal ini terkait erat seperti kata-kata bijak yang sudah tak asing lagi kita dengar ialah “Ibarat ilmu padi, makin berisi makin merunduk” maka, seseorang yang memiliki ilmu semakin tinggi, maka ia akan semakin tawadu’ dihadapan manusia. 

Sebagai kesimpulan, maka jadilah orang yang berilmu dan beradab, orang yang cerdas secara intelektual maupun spiritual dan emosional. Amin Allahumma Amin...

Kisah Seorang Muallaf dari Australia


Kisah Seorang Muallaf dari Australia

Kesimpulan dari menyaksikan ikrar dua kalimat syahadat di UIN Sunan Kalijaga, oleh saudari 

Lenore Isabel. 




Seorang wanita berkebangsaan Australia,tepatnya didaerah Sydney. Kemarin,07 Februari 2014, ba’da Jumat memutuskan dan menyatakan dirinya untuk menjadi seorang muslim (muallaf) yang dibimbing oleh Kyai pengasuh Pondok pesantren Wahid Hasyim serta disaksikan oleh ratusan jamaah Jumah Masjid UIN SuKa. Yang menjadikan hati ini terharu ialah bukan karna Ikrar yang ia lakukan, namun perjalanan panjang dan kisah yang ia ceritakan dalam mencari agama yang tepat untuk dirinya.
Sebelum sampai di Indonesia, ia telah melakukan perjalanan panjang di berbagai negara baik di negara-negara Eropa maupun Afrika. Dengan satu tujuan yakni mencari agama yang terbaik. Ia melakukan perbandingan antara agama-agama yang ada di dunia, ia mempelajarinya baik dalam kitab suci, budaya relasi sosial dan aspek-aspek lain yang terkandung dalam agama tersebut. Hingga pada akhirnya ia tertarik pada agama Islam.
Ia mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang sangat berbeda dengan agama-agama yang lain, perbedaan tersebut bukan hanya karena jumlah pemeluknya yang terbesar di dunia, namun juga dalam segi budaya,ke-Tuhanan maupun relasi sosial. Ia mengatakan Islam adalah agama yang damai, tidak membeda bedakan satu dengan yang lainnya. Islam adalah agama yang paling ramah, dalam arti solidaritas dan hubungan sesama manusia. Dalam segi kitab sucinya pun ( al-Qur’an ) setelah ia bandingkan diberbagai negara, seluruhnya sama, tidak ada perbedaan. Subhanallah...
Akhirnya dengan sangat tertatih dan susah payah ia dibimbing oleh sang Kyai untuk mengikutinya mengucap “Asyhadu an La ila ha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” “There is no God except Allah and Muhammad is prophet and the massanger of Allah “ dengan berulang ulang kali, kemudian ia mengganti namanya dari Lenore menjadi Khorijah. Poin penting yang dapat digaris bawahi disini ialah bahwa ia masuk Islam bukan diawalai dari sebuah kepercayaan akan Tuhan terlebih dahulu, bahkan mungkin ia belum mengerti apa itu Tuhan, namun Ia masuk Islam karena  sebuah proses kajian dan riset yang mendalam tentang agama-agama di seluruh dunia, dan dengan kesimpulan yang objektif akhirnya ia menetapkan Islam sebagai agamanya.
 Berarti sungguh telah terbukti, bahwa inilah Islam, harusnya keindahan Islam tidak hanya dirasakan oleh orang-orang muslim saja, namun orang-orang non muslim pun dapat  merasakan bagaimana keindahan agama Islam ,sebagaimana yang dialami oleh saudari Lenore tersebut. Lalu mengapa sesama muslim sendiri harus saling bertengkar bahkan saling mengkafirkan hanya karena berbeda pemahaman tentang menjalankan Islam itu sendiri, bukankah Islam itu Rahmatan lil Alamin ? Bukankah Islam itu Indah ?
Maha suci Allah, yang akan memberikan hidayah-Nya kepada orang-orang yang Ia kehendaki.............
Maka dengan kejadian ini saya teringat dengan Prof.Dr.Agelica Neurwith sebagai salah satu ahli sejarah teks al-Quran di Jerman yang didatangkan beberapa bulan yang lalu, dengan melakukan kajian yang panjang pula,ia meyakini bahwa al-Qur’an ialah benar-benar murni dari Tuhan,al-Quran bukanlah buatan manusia, bahkan Ia yakin bahwa Tuhan itu ada. Namun mengapa ia tetap pada agamanya dan belum mau menjadi seorang muslim ? Sedangkan saudari Lenore tadi mau menjadi muslim ?
Saya yakin bahwa hidayah Allah berperan disini, mereka berdua sama-sama sudah meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar, namun pintu hidayah baru dibukakan untuk saudari Lenore , dan Allah belum membukakan pintu hidayah untuk Prof.Angelica Neurwith.
Maka sungguh kita perlu mengkaji ulang jika ada yang mengatakan bahwa ‘kita adalah Islam keturunan saja’,seolah tidak ada rasa syukur kepada Allah yang telah menghendaki kita dilahirkan dari rahim seseorang yang beragama Islam. Karena sesungguhnya Islam dan Iman adalah sebuah anugerah,sebuah hidayah serta nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Maka bukankah sangat mudah bagi Tuhan jika belum menghendaki hidayah-Nya diberikan kepada kita,dengan menempatkan dan menghendaki kita dilahirkan dari rahim seorang  non-Muslim serta tidak mengenal Islam hingga akhir hayatnya ?? Naudzubillah....
  Maka bersyukurlah kita yang sejak dilahirkan sudah beragama Islam, selanjutnya tinggallah bagaimana Implementasi dari rasa syukur kita kepada Allah,agar kita selalu bersyukur akan nikmat Islam,Iman serta hidayah yang telah Ia berikan dan agar kita dapat selalu bertaqwa kepada-Nya. Janganlah kita menyia-nyiakannya..
Allahumma tsabbit imanana wa tsabbit qulubana ala din al-Islam waja’alna min ibadika al-syakirin..... Amin Allahumma amin......



 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates