Pesta
Rakyat atau Ajang Saling Menghujat ??
Mari kita ciptakan Pemilu yang bersih, pemilu
yang bebas dari kecurangan, pemilu yang adil, pemilu tanpa kekerasan, begitulah
inti dari pidato kedua pasang Capres-Cawapres ; Prabowo Subianto-Hatta Rajasa
dan Jokowi Dodo- Jusuf Kalla , dalam acara Deklarasi Pemilu Berintegritas
dan Damai tanggal 3 Juni yang lalu. Bahkan statement tersebut dipertegas
dengan ucapan dari salah satu calon “ diharap kepada para pendukung saya
benar-benar mengikuti instruksi ini”.
Namun
jika dilihat dalam faktanya beberapa hari terakhir ini berbagai media sosial
sedang heboh membahas politisi partai PDIP yang sekaligus menjadi tim sukses
dari pasangan Jokowi-JK- Adian Napitupulu- ia menjadi buah bibir awak media
sejak diundangnya dalam program Mata Najwa beberapa hari yang lalu pula. Saat
dilontarkan pertanyaan terakhir oleh Najwa Shihab apakah kelebihan dari
masing-masing calon namun yang menjawab adalah tim sukses lawan. Ia justru
menjawab Prabowo hebat dalam dua hal yakni dalam mengurus kuda dan memberi
harapan kepada wanita-wanita. Begitupun tim sukses dari Prabowo mengatakan :
Jokowi hebat dalam blusukan, namun saya tidak membayangkan jika ia harus
menghabiskan berapa tahun untuk membagikan sembako kepada rakyat yang jumlahnya
jutaan. Berbagai isu-isu lain yang sedang berkembang di media saat ini tentang
Prabowo , bahwa ia merupakan seorang psikopat, hanya seorang antek Soeharto
yang akan bertindak tidak berbeda layaknya Soeharto, orang kaya yang tidak akan
bisa mengerti penderitaan orang-orang miskin. Sedangkan isu yang berkembang
tentang Jokowi, bahwa ia adalah antek Yahudi, yang nama aslinya adalah
Herbertus Handoko Jokowidodo, ada pula yang mengatakan bahwa ia hanyalah
sebagai bonekanya Megawati, yang dapat diperintah sesuai keinginan Megawati.
Begitulah kira-kira berita-berita yang beredar di media, dan masih banyak yang
lainnya.
Terlepas dari benar atau tidak kabar-kabar
itu, namun fakta ini sesungguhnya membuktikan bahwa apa yang dikatakan dan di
instruksikan para calon saat berpidato
di depan publik bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan. Ini
hanyalah salah satu dari beberapa bukti-bukti yang terjadi dilapangan tentang
ketidak selarasan antara ucapan dan perbuatan. Entah apakah mereka para calon
benar-benar tidak tahu , pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu ? Lalu
sebenarnya Pemilu lima tahunan ini benar Pesta Rakyat , atau ajang saling
menghujat yang akhirnya menyengsarakan rakyat ? Kampanye pemilu yang hanya
berlangsung beberapa bulan ini namun bisa menyulut permusuhan yang
berkepanjangan di masyarakat akibat aksi provokator dari para tim sukses. Tidak
sedikit kita temui di media pertikaian antar anggota partai dan antar calon tim
sukses baik dalam pemilu calon legislatif maupun calon presiden dan wakilnya.
Semisal kasus yang tidak luput dari ingatan kita ialah bentrokan yang terjadi
antar dua kubu simptisan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar di Mamuju
Sulawesi Barat pada bulan Maret yang lalu, yang mengakibatkan aksi saling bacok sampai ada korban yang
kehabisan darah karena luka bacok diwajah. Diduga penyebabnya adalah karena
salah seorang simpatisan partai Demokrat menurunkan atribut dan bendera Partai
Golkar. Hal-hal seperti inilah yang benar-benar tidak kita harapkan, dengan
masalah yang sebenarnya sangat sepele namun berdampak sangat besar. Lagi-lagi
pertanyaan yang muncul adalah pesta rakyat atau menyengsarakan rakyat ?
Menuju
Pemilu yang benar-benar bersih….
Sudah saatnya pemilu atau yang sering disebut
dengan pesta rakyat lima tahunan, harus berbenah diri. Menuju pemilu yang
benar-benar berlandaskan asas Langsung, Umum, Bersih Jujur dan Adil. Tidak
sebatas dalam ranah pidato saja, namun juga harus selaras dengan fakta yang
ada. Disinilah ketegasan pemimpin sangat dibutuhkan bagi para pelanggar
asas-asas yang telah ditetapkan tersebut. Bawaslu harusnya tidak hanya sekedar
menunggu laporan, untuk benar-benar
memberi sanksi kepada orang-orang yang berkampanye dengan tidak
menggunakan etika, menyebar isu-isu yang tidak benar, mencari-cari kesalahan
satu sama lain, saling mencaci, saling menghujat dsb. Sebagaimana yang
diucapkan oleh Ketua Bawaslu-Muhammad- saat memberikan pidatonya beberapa hari
yang lalu dalam acara Deklarasi Pemilu pula, namun Bawaslu juga harus menjemput
bola, dalam arti turun kelapangan untuk mencari dan menindak orang-orang yang
melakukan hal-hal tersebut baik di media
maupun non-media. Muhammad juga mengatakan bahwa “letak indikator keberhasilan
Bawaslu pada pemilu kali ini bukanlah karena seberapa banyak rekomendasi atau laporan pelanggaran
pidana dan administrasi tapi seberapa serius Bawaslu mencegah pelanggaran itu
agar tidak terjadi”. Karena jika hal ini
terus berlarut bukanlah kebahagiaan, namun kesengsaraan yang diterima rakyat
dalam pemilu satu bulan kedepan. Jangan paksa rakyat untuk menerima segala
bentuk provokasi dari para timses calon, biarkanlah rakyat memilih dengan hati
nurani mereka masing-masing.
Pada akhirnya kita sama-sama menunggu bentuk
tindakan konkrit atau tindakan preventif yang akan dilakukan Bawaslu selanjutnya, dalam mencegah agar
pelanggaran-pelanggaran tidak lagi terjadi… Sebagimana moto diakhir penghujung
pidatonya –Muhammad- yakni : jujur, tegas kepada setiap pelanggaran
tetapi tetap santun dalam menegakkan aturan.. Agar tercipta pemilu yang damai
tanpa ada rakyat yang bertikai dan tercerai berai.
Oleh : Idris
Ahmad Rifai, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

0 komentar:
Posting Komentar