Social Icons

Pages

Jumat, 06 Juni 2014

Pesta Rakyat atau Ajang Saling Menghujat ?


Pesta Rakyat atau Ajang Saling Menghujat ??
Mari kita ciptakan Pemilu yang bersih, pemilu yang bebas dari kecurangan, pemilu yang adil, pemilu tanpa kekerasan, begitulah inti dari pidato kedua pasang Capres-Cawapres ; Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Jokowi Dodo- Jusuf Kalla , dalam acara Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai tanggal 3 Juni yang lalu. Bahkan statement tersebut dipertegas dengan ucapan dari salah satu calon “ diharap kepada para pendukung saya benar-benar mengikuti instruksi ini”.
            Namun jika dilihat dalam faktanya beberapa hari terakhir ini berbagai media sosial sedang heboh membahas politisi partai PDIP yang sekaligus menjadi tim sukses dari pasangan Jokowi-JK- Adian Napitupulu- ia menjadi buah bibir awak media sejak diundangnya dalam program Mata Najwa beberapa hari yang lalu pula. Saat dilontarkan pertanyaan terakhir oleh Najwa Shihab apakah kelebihan dari masing-masing calon namun yang menjawab adalah tim sukses lawan. Ia justru menjawab Prabowo hebat dalam dua hal yakni dalam mengurus kuda dan memberi harapan kepada wanita-wanita. Begitupun tim sukses dari Prabowo mengatakan : Jokowi hebat dalam blusukan, namun saya tidak membayangkan jika ia harus menghabiskan berapa tahun untuk membagikan sembako kepada rakyat yang jumlahnya jutaan. Berbagai isu-isu lain yang sedang berkembang di media saat ini tentang Prabowo , bahwa ia merupakan seorang psikopat, hanya seorang antek Soeharto yang akan bertindak tidak berbeda layaknya Soeharto, orang kaya yang tidak akan bisa mengerti penderitaan orang-orang miskin. Sedangkan isu yang berkembang tentang Jokowi, bahwa ia adalah antek Yahudi, yang nama aslinya adalah Herbertus Handoko Jokowidodo, ada pula yang mengatakan bahwa ia hanyalah sebagai bonekanya Megawati, yang dapat diperintah sesuai keinginan Megawati. Begitulah kira-kira berita-berita yang beredar di media, dan masih banyak yang lainnya.
Terlepas dari benar atau tidak kabar-kabar itu, namun fakta ini sesungguhnya membuktikan bahwa apa yang dikatakan dan di instruksikan  para calon saat berpidato di depan publik bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan. Ini hanyalah salah satu dari beberapa bukti-bukti yang terjadi dilapangan tentang ketidak selarasan antara ucapan dan perbuatan. Entah apakah mereka para calon benar-benar tidak tahu , pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu ? Lalu sebenarnya Pemilu lima tahunan ini benar Pesta Rakyat , atau ajang saling menghujat yang akhirnya menyengsarakan rakyat ? Kampanye pemilu yang hanya berlangsung beberapa bulan ini namun bisa menyulut permusuhan yang berkepanjangan di masyarakat akibat aksi provokator dari para tim sukses. Tidak sedikit kita temui di media pertikaian antar anggota partai dan antar calon tim sukses baik dalam pemilu calon legislatif maupun calon presiden dan wakilnya. Semisal kasus yang tidak luput dari ingatan kita ialah bentrokan yang terjadi antar dua kubu simptisan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar di Mamuju Sulawesi Barat pada bulan Maret yang lalu, yang mengakibatkan  aksi saling bacok sampai ada korban yang kehabisan darah karena luka bacok diwajah. Diduga penyebabnya adalah karena salah seorang simpatisan partai Demokrat menurunkan atribut dan bendera Partai Golkar. Hal-hal seperti inilah yang benar-benar tidak kita harapkan, dengan masalah yang sebenarnya sangat sepele namun berdampak sangat besar. Lagi-lagi pertanyaan yang muncul adalah pesta rakyat atau menyengsarakan rakyat ?
Menuju Pemilu yang benar-benar bersih….
Sudah saatnya pemilu atau yang sering disebut dengan pesta rakyat lima tahunan, harus berbenah diri. Menuju pemilu yang benar-benar berlandaskan asas Langsung, Umum, Bersih Jujur dan Adil. Tidak sebatas dalam ranah pidato saja, namun juga harus selaras dengan fakta yang ada. Disinilah ketegasan pemimpin sangat dibutuhkan bagi para pelanggar asas-asas yang telah ditetapkan tersebut. Bawaslu harusnya tidak hanya sekedar menunggu laporan, untuk benar-benar  memberi sanksi kepada orang-orang yang berkampanye dengan tidak menggunakan etika, menyebar isu-isu yang tidak benar, mencari-cari kesalahan satu sama lain, saling mencaci, saling menghujat dsb. Sebagaimana yang diucapkan oleh Ketua Bawaslu-Muhammad- saat memberikan pidatonya beberapa hari yang lalu dalam acara Deklarasi Pemilu pula, namun Bawaslu juga harus menjemput bola, dalam arti turun kelapangan untuk mencari dan menindak orang-orang yang melakukan hal-hal  tersebut baik di media maupun non-media. Muhammad juga mengatakan bahwa “letak indikator keberhasilan Bawaslu pada pemilu kali ini bukanlah karena seberapa  banyak rekomendasi atau laporan pelanggaran pidana dan administrasi tapi seberapa serius Bawaslu mencegah pelanggaran itu agar tidak terjadi”.  Karena jika hal ini terus berlarut bukanlah kebahagiaan, namun kesengsaraan yang diterima rakyat dalam pemilu satu bulan kedepan. Jangan paksa rakyat untuk menerima segala bentuk provokasi dari para timses calon, biarkanlah rakyat memilih dengan hati nurani mereka masing-masing.
 Pada akhirnya kita sama-sama menunggu bentuk tindakan konkrit atau tindakan preventif yang akan dilakukan Bawaslu  selanjutnya, dalam mencegah agar pelanggaran-pelanggaran tidak lagi terjadi… Sebagimana moto diakhir penghujung pidatonya –Muhammad-   yakni  : jujur, tegas kepada setiap pelanggaran tetapi tetap santun dalam menegakkan aturan.. Agar tercipta pemilu yang damai tanpa ada rakyat yang bertikai dan tercerai berai. 

Oleh : Idris Ahmad Rifai, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates