Social Icons

Pages

Selasa, 09 Desember 2014

MIN HAYTSU LA YAHTASIB

MIN HAYTSU LA YAHTASIB



Pagi itu setelah shalat subuh berjamaah, seperti biasanya kami melakukan rutinitas kami yakni mengaji kitab Nashaih al-Ibad karya Imam Nawawi bin ‘Umar al-Jawi yang dipimpin oleh beliau K.H Abdul Mustaqim. Disela pengajian ketika membicarakan masalah rezeki, ada sebuah pelajaran yang sangat berharga dan bisa menjadi sebuah instropeksi diri tentang betapa besar nikmat yang telah Allah berikan namun begitu banyak yang kita lalaikan.
Beliau menyampaikan sebuah pemahamannya dalam surat Al-Thalaq ayat  2-3 “ waman yattqillaha yaj’al lahu makhroja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib” yang berarti “ barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka” . Kebanyakan orang memahami kata-kata min haytsu la yahtasib dengan pemahaman bahwa Allah benar-benar memberikan sebuah rezeki kepada mereka dari jalan yang benar-benar tidak mereka duga sama sekali sebelumnya. Namun beliau- K.H.Abdul Mustaqim- menafsirkaan ayat tersebut lebih luas daripada apa yang telah kita fahami sebelumnya. Baginya “bahwa lafadz min haytsu la yahtasib itu tidak hanya diartikan dengan rezeki yang tidak pernah kita sangka saja namun lebih dari itu bahwa Allah memberikan rezeki kepada kita melebihi apa yang kita sangkakan atau kita ukur, itu juga termasuk min haytsu la yahtasib”.
Lebih lanjut beliau memberikan sebuah refleksi tentang perjalanan hidupnya yang hanya berasal dari sebuah kampung yang agak terpencil/ pelosok serta cukup jauh dari keramaian. Menurutnya bahwa dengan belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh akan mengantarkan kepada cita-citanya yakni menjalani hidup lebih baik –mungkin menjadi seorang dosen- . Hal ini sudah beliau duga dan beliau sangka, namun yang tidak pernah beliau sangka adalah bahwa Allah memberikannya saat ini rezeki melebihi apa yang telah beliau sangkakan tadi – menjadi seorang dosen yang cukup di pandang di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di kota Yogyakarta, memiliki sebuah mobil, memiliki rumah yang cukup baik, memiliki sebuah pesantren meski belum besar serta masih banyak yang lain-. Beliau menambahkan bahwa tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia yang hanya seorang anak yang dibesarkan disebuah kampun cukup pelosok namun bisa menjalani hidup seperti saat ini, di sebuah kota besar yang sangat ramai yakni Yogyakarta.
Mereflesikan hal tersebut, saya teringat akan kisah teman saya yakni Wildan dan Afif. Kurang lebih sekitar empat bulan yang lalu pak kiai memberikan sebuah informasi tentang LKTI – Lomba Karya Tulis Ilmiah- yang diadakan oleh Puslitbang Kementrian Agama RI dengan berhadiahkan 10 juta rupiah bagi 10 proposal terbaik. Singkat cerita akhirnya proposal mereka diterima sebagai bagian dari 10 proposal terbaik  setelah bersaing dengan begitu banyak proposal-proposal dari seluruh penjuru Indonesia, kemudian akan diberikan dana penelitian sebesar Rp.10.000.000. untuk menyelesaikan penelitiannya. Hal ini sesuai dengan apa yang mereka sangkakan dan hasil kerja keras mereka yang rela menunda kepulangannya ke kampung masing-masing – di saat pesantren sudah sangat sepi karena para santri sudah pulang ke kampung mereka untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan - .
Namun ternyata Allah memberikan rizki melebihi apa yang mereka sangkakan. Dalam mempertanggung jawabkan proposalnya, mereka ternyata harus pergi ke Jakarta untuk mempresentasikan proposalnya. Mereka harus menginap di sebuah hotel yang cukup megah dengan kelas bintang tiga selama tiga hari. Mulai dari keberangkatan sampai kepulangan termasuk menginap di hotel, makan selama tiga hari semuanya ditanggung oleh Kemenag. Bahkan keberadaan mereka di Jakarta selama tiga hari dihargai sebesar 150.000/ perhari sebagai uang saku. “Hadza min Fadhli Rabbi” demikian ujar Wildan di sela makan malam dengan menu makanan yang begitu nikmat dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah sebuah kenikmatan pertama yang telah diberikan oleh Allah melebihi apa yang mereka sangkakan.
Tiga bulan kemudian, mereka mendapatkan undangan yang kedua kalinya untuk mempresentasikan hasil penelitannya di Bogor. Tak jauh berbeda dengan yang pertama segala keperluan dari mulai keberangkatan hingga kepulangan akan ditanggung oleh Kemenag. Siang itu mereka sampai di Kantor Kementrian Agama Pusat lantai 18 untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Bogor bersama-sama para pejabat Kemenag. Setelah menunggu beberapa jam, mereka berangkat menuju Bogor dengan berkendaraan mobil dinas. Sesampainya di Bogor mereka tersenyum bahagia, ketika melihat hotel yang begitu besar tak kalah kelas dengan hotel yang mereka tempati tiga bulan yang lalu di Jakarta. Mereka harus menginap di sana selama tiga hari untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, didukung dengan fasilitas hotel yang terbilang megah bagi mereka. “Hadza min Fadhli Rabbi” demikian ujar afif disela sarapan paginya yang ditemani dengan segelas jus melon, nasi putih dan steak.  Setelah tiga hari, tiba saatnya mereka pulang ke Pon-Pes LSQ Ar-Rahmah disertai uang transport dan saku yang nominalnya lebih besar daripada saat pertama presentasi proposal. Sebelum pulang Afif menyempatkan diri untuk menyempatkan diri untuk mengunjungi Kebun Raya Bogor bersama teman-temannya dan seorang reporter PBNU Online. Sementara Wildan memilih untuk bersinggah di Pon-Pes Darun Najah Jakarta sembari menunggu keretanya.
Demikianlah betapa Allah memberikan sebuah nikmat melebihi apa yang mereka sangka sebelumnya. Jika tak Allah tak melebihkan nikmatnya mungkin kami belum tentu merasakan betapa nikmatnya tidur di hotel berbintang, dengan makanan berbintang serta dapat berkunjung di berbagai tempat di Jakarta dan di Bogor yang jika di total tentu melebihi Rp 10.000.000 ; ujar Afif dan Wildan saat dalam perjalanan pulang. Saya yang pada saat itu sebagai saksi perjalanan mereka dari awal hingga akhir juga dapat merasakan betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka dan juga saya.
Para pembaca yang budiman, terkadang kita tidak pernah sadar betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Karena keinginan duniawi yang begitu tinggi, kita lupa akan nikmat-nikmat  yang dianggap kecil yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari. Mari kita renungkan nasihat  Rasul ketika membicarakan tentang urusan duniawi “ undzuru ila man huwa asfala minkum, wa la tandzuru ila man huwa fawqokum” ( lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, jangan melihat orang yang ada di atasmu ) hadis ini bukan berarti mengisyaratkan kita tidak boleh meraih kehidupan duniawi sebanyak-banyaknya, namun dalam hadis ini sesungguhnya Rasulullah ingin berpesan kepada kita untuk dapat selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita sekecil apapun nikmat itu.
Sebagai ucapan terakhir, mari kita bersama-sama terus berinstropeksi diri akan betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari, sebab semakin jauh kita bisa mengukur dan bersyukur terhadap nikmat Allah, yakinlah bahwa Allah akan memberikan lebih jauh dari apa yang telah kita ukur atau sebagaimana yang telah dijelaskan di awal yakni “ min haytsu la yahtasib” demikian pula yang telah Allah jelaskan dalam firmannya ( La in syakartum la azidannakum).  


 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates