Kisah Seorang Muallaf dari Australia
Kesimpulan
dari menyaksikan ikrar dua kalimat syahadat di UIN Sunan Kalijaga, oleh saudari
Lenore Isabel.
Seorang wanita
berkebangsaan Australia,tepatnya didaerah Sydney. Kemarin,07 Februari 2014,
ba’da Jumat memutuskan dan menyatakan dirinya untuk menjadi seorang muslim
(muallaf) yang dibimbing oleh Kyai pengasuh Pondok pesantren Wahid Hasyim serta
disaksikan oleh ratusan jamaah Jumah Masjid UIN SuKa. Yang menjadikan hati ini
terharu ialah bukan karna Ikrar yang ia lakukan, namun perjalanan panjang dan
kisah yang ia ceritakan dalam mencari agama yang tepat untuk dirinya.
Sebelum sampai di
Indonesia, ia telah melakukan perjalanan panjang di berbagai negara baik di
negara-negara Eropa maupun Afrika. Dengan satu tujuan yakni mencari agama yang
terbaik. Ia melakukan perbandingan antara agama-agama yang ada di dunia, ia
mempelajarinya baik dalam kitab suci, budaya relasi sosial dan aspek-aspek lain
yang terkandung dalam agama tersebut. Hingga pada akhirnya ia tertarik pada
agama Islam.
Ia mengatakan bahwa
agama Islam adalah agama yang sangat berbeda dengan agama-agama yang lain,
perbedaan tersebut bukan hanya karena jumlah pemeluknya yang terbesar di dunia,
namun juga dalam segi budaya,ke-Tuhanan maupun relasi sosial. Ia mengatakan
Islam adalah agama yang damai, tidak membeda bedakan satu dengan yang lainnya.
Islam adalah agama yang paling ramah, dalam arti solidaritas dan hubungan
sesama manusia. Dalam segi kitab sucinya pun ( al-Qur’an ) setelah ia bandingkan
diberbagai negara, seluruhnya sama, tidak ada perbedaan. Subhanallah...
Akhirnya dengan
sangat tertatih dan susah payah ia dibimbing oleh sang Kyai untuk mengikutinya
mengucap “Asyhadu an La ila ha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan
Rasulullah” “There is no God except Allah and Muhammad is prophet and the
massanger of Allah “ dengan berulang ulang kali, kemudian ia mengganti
namanya dari Lenore menjadi Khorijah. Poin penting yang dapat digaris bawahi
disini ialah bahwa ia masuk Islam bukan diawalai dari sebuah kepercayaan akan
Tuhan terlebih dahulu, bahkan mungkin ia belum mengerti apa itu Tuhan, namun Ia
masuk Islam karena sebuah proses kajian
dan riset yang mendalam tentang agama-agama di seluruh dunia, dan dengan
kesimpulan yang objektif akhirnya ia menetapkan Islam sebagai agamanya.
Berarti sungguh telah terbukti, bahwa inilah
Islam, harusnya keindahan Islam tidak hanya dirasakan oleh orang-orang muslim
saja, namun orang-orang non muslim pun dapat
merasakan bagaimana keindahan agama Islam ,sebagaimana yang dialami oleh
saudari Lenore tersebut. Lalu mengapa sesama muslim sendiri harus saling
bertengkar bahkan saling mengkafirkan hanya karena berbeda pemahaman tentang
menjalankan Islam itu sendiri, bukankah Islam itu Rahmatan lil Alamin ?
Bukankah Islam itu Indah ?
Maha suci Allah,
yang akan memberikan hidayah-Nya kepada orang-orang yang Ia kehendaki.............
Maka dengan kejadian
ini saya teringat dengan Prof.Dr.Agelica Neurwith sebagai salah satu ahli
sejarah teks al-Quran di Jerman yang didatangkan beberapa bulan yang lalu,
dengan melakukan kajian yang panjang pula,ia meyakini bahwa al-Qur’an ialah
benar-benar murni dari Tuhan,al-Quran bukanlah buatan manusia, bahkan Ia yakin
bahwa Tuhan itu ada. Namun mengapa ia tetap pada agamanya dan belum mau menjadi
seorang muslim ? Sedangkan saudari Lenore tadi mau menjadi muslim ?
Saya yakin bahwa
hidayah Allah berperan disini, mereka berdua sama-sama sudah meyakini bahwa
Islam adalah agama yang benar, namun pintu hidayah baru dibukakan untuk saudari
Lenore , dan Allah belum membukakan pintu hidayah untuk Prof.Angelica Neurwith.
Maka sungguh kita
perlu mengkaji ulang jika ada yang mengatakan bahwa ‘kita adalah Islam
keturunan saja’,seolah tidak ada rasa syukur kepada Allah yang telah
menghendaki kita dilahirkan dari rahim seseorang yang beragama Islam. Karena
sesungguhnya Islam dan Iman adalah sebuah anugerah,sebuah hidayah serta nikmat
terbesar yang Allah berikan kepada kita. Maka bukankah sangat mudah bagi Tuhan
jika belum menghendaki hidayah-Nya diberikan kepada kita,dengan menempatkan dan
menghendaki kita dilahirkan dari rahim seorang non-Muslim serta tidak mengenal Islam hingga
akhir hayatnya ?? Naudzubillah....
Maka bersyukurlah kita yang sejak dilahirkan
sudah beragama Islam, selanjutnya tinggallah bagaimana Implementasi dari rasa
syukur kita kepada Allah,agar kita selalu bersyukur akan nikmat Islam,Iman
serta hidayah yang telah Ia berikan dan agar kita dapat selalu bertaqwa
kepada-Nya. Janganlah kita menyia-nyiakannya..
Allahumma tsabbit
imanana wa tsabbit qulubana ala din al-Islam waja’alna min ibadika al-syakirin.....
Amin Allahumma amin......